Welcome to Cendekia Press Website >>>>>>> Our Goal is to Refer You to a Self Publishing Partner

Latar Pemikiran Memilih Self Publishing

Di tengah perkembangan media elektronik yang cukup pesat, dengan sajian berbagai informasi dan tampilan yang sangat menarik, media cetak masih merupakan sumber informasi yang banyak dipergunakan untuk berbagai keperluan. Hal ini terbukti dengan eksistensi buku di berbagai lembaga pendidikan –mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi– masih merupakan salah satu sumber belajar utama, disamping guru. Selain itu, buku juga sudah menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat saat ini.

Selaras dengan kebutuhan dan persaingan yang ketat tersebut, tentunya buku harus disajikan sebaik dan semenarik mungkin. Karena buku merupakan sebuah karya kredibilitas yang menunjukkan kadar wawasan serta kemampuan intelektual penulisnya.

Untuk menyajikan buku yang baik, proses pembuatan buku di dunia penerbitan sendiri mencakup penyuntingan (editing), tata letak dan desain cover (setting/layout), serta percetakan. Dengan proses editing, diharapakan akan menghasilkan buku yang memiliki kaidah bahasa, gaya bahasa, pilihan kata, kesesuaian dengan EYD, dan keterbacaan yang baik. Dengan proses setting/layout, diharapakan akan menghasilkan buku dengan tampilan yang menarik. Kedua komponen tersebut (editing dan setting/layout) memiliki peran yang sangat penting dalam kenyamanan membaca. Semakin baik bentuk atau anatomi sebuah buku, maka akan semakin menarik minat masyarakat untuk membacanya.

Dalam dunia perbukuan, Bandung dikenal sebagai salah satu kota pusat industri buku di Indonesia, selain Jakarta dan Yogyakarta. Penerbit dan percetakan banyak ditemukan di Bandung. Sejak reformasi 1998, penerbit dan percetakan tumbuh secara masif. Berbeda dengan kota lain yang pertumbuhannya ditopang besaran modal, penerbit dan percetakan di Bandung, kini digerakkan oleh semangat idealisme. Para pelaku muncul dari kalangan mahasiswa yang haus akan ilmu, namun terbatas oleh kemampuan modal. Saat ini, penerbitan dan percetakan di Bandung bisa dikatakan sedang mengalami masa keemasan. Hal ini ditandai dengan diterbitkannya pelbagai judul buku, yang  umumnya berupa buku-buku akademis.

Faktor Bandung sebagai kota pendidikan yang dihuni dengan beberapa perguruan tinggi ternama, turut mendukung hadirnya penulis-penulis baru, terutama dari kalangan akademis. Namun demikian, di tengah banyaknya penerbit dan percetakan di Bandung, ternyata masih banyak penulis –khususnya pemula, termasuk penulis akademis– yang kesulitan “menembus” penerbit.

Secara umum, masih banyaknya penulis akademis yang kurang mendapat tempat di kalangan penerbit adalah disebabkan proses redaksional yang relatif lama, ditambah dengan adanya pergeseran jenis buku yang diterbitkan akibat tekanan pasar, sehingga permintaan pasar terhadap buku-buku jenis akademis tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan buku-buku populer.

Pergeseran jenis-jenis buku yang diminati pasar juga membuat penerbit-penerbit besar sering mengalami kesulitan memasarkan jenis buku akademis di toko-toko buku. Hal ini bisa dimaklumi, karena disamping jumlah toko buku  yang terbatas, juga karena porsi display di toko buku tidak sebanding dengan jumlah buku yang ditawarkan penerbit.

Kondisi seperti ini tentunya akan mempersulit pembaca untuk mendapatkan buku-buku jenis tersebut. Bagi penerbit sendiri, stok buku yang semakin menumpuk di gudang akan menjadi beban tersendiri, sehingga imbasnya akan terasa bagi penulis (khususnya pemula) dalam menembus penerbit-penerbit buku tersebut.

Pada tahun 2008, untuk pertama kalinya dalam sejarah Amerika, lebih banyak buku yang diterbitkan sendiri (self-publishing) daripada yang diterbitkan secara konvensional. Bahkan pada tahun 2009, dari semua buku yang beredar, 76%-nya diterbitkan sendiri (self-publishing), sementara penerbit mengurangi jumlah buku yang mereka produksi. Banyak penulis terkenal yang menerbitkan karyanya sendiri, seperti J.K. Rowling yang menerbitkan seri Harry Potter versi e-book melalui situs pribadinya.

Di Indonesia sendiri, saat ini, teknologi percetakan dan penerbitan buku telah mengarah kepada self-publishing,tidak lagi dicetak secara massal. Self-publishing dengan mesin cetak print on demand (POD) telah mampu mencetak buku dengan kualitas sama baiknya dengan mesin cetak konvensional. Dengan cara ini, keunggulannya jelas bisa mencetak buku dengan jumlah yang relatif sedikit, tidak harus memenuhi kuota standar percekatakan konvensional. Bahkan hanya satu eksemplar buku pun bisa dilakukan, sehingga cara seperti ini sangat bermanfaat untuk melakukan sampling buku yang akan diterbitkan. Tentunya dengan kualitas yang relatif sama.

Kondisi tersebut tentunya sangat cocok untuk para akademisi atau penulis pemula yang kesulitan masuk ke penerbit konvensional. Penulis bisa menjadi penerbit untuk bukunya sendiri atau self-publishing. Penulis bertanggung jawab dan mengendalikan seluruh proses, termasuk desain (sampul/layout), format buku, harga, pemasaran, dan promosi. Dalam hal ini penulis dapat melakukan semuanya sendiri, atau outsourcing semua atau sebagian dari proses tersebut.

Oleh sebab itulah kami hadir untuk menjadi bagian dari semua proses tersebut sehingga bisa  meringankan beban perusahaan penerbitan (karena bukan sistem gaji), dan yang terpenting adalah bisa membantu mewujudkan siapapun yang memiliki keinginan untuk memiliki buku sendiri yang selama ini masih sering ditolak oleh penerbit mayor.