Welcome to Cendekia Press Website >>>>>>> Our Goal is to Refer You to a Self Publishing Partner

Ternyata Penerbit dan Percetakan itu Beda Lho

Dalam dunia perbukuan, ternyata masih banyak penulis baik dari kalangan umum maupun akademisi yang suka menulis yang memandang bahwa penerbitan dan percetakan buku merupakan satu kesatuan. Hal ini sering saya temukan ketika ada pesanan penulis untuk menerbitkan bukunya secara indi (indie publishing).

Pemesan: “Pak saya mau mencetak buku 50 eksemplar… soalnya saya lihat di website cendekia press bisa diurus juga ya ISBN-nya?”
Cendekia: “Betul Pak, insyaalloh bisa kami bantu. Tapi maaf pa Apakah bukunya sudah siap cetak?”
Pemesan: “Sudah pak… Tulisan saya sudah tinggal cetak. Jumlah halamannya sekitar 160-an. Kan harga cetaknya sesuai yang  ada ya di website?”
Cendekia: “Betul pa… Terus ukuran bukunya berapa pak?”
Pemesan: “Biasanya umum buku PERTI (Perguruan Tinggi) bagaimana pak?”
Cendekia: “Biasanya sih ukuran B5 pak”
Pemesan: “ya sudah itu aja pak ukurannya”
Cendekia: “Baik kalau begitu, kirim saja naskah bapak ke email kami (penerbit@cendekiapress.com) ya pa…”
Pemesan: “Baik pak, ntar saya WA lagi kalo naskah sudah dikirim”
Cendekia: “Kami tunggu ya pak…”

Singkat cerita, dikirimlah file naskah tersebut. Kemudian pihak cendekia membukanya….Klik… pas dibuka ternyata naskahnya baru ditulis dalam format standar MS Word ukuran A4 dengan margin standar. Nah… kalau seperti ini bukan siap cetak dan siap terbit dong… Lalu pihak cendekia pun menghubungi lagi pemesan.

Cendekia: Assalamu’alaikum… Selamat siang pak…“
Pemesan: Waaliakumsalam.. selamat siang juga… bagaimana pak?”
Cendekia: Maaf pak, setelah file yang bapak kirim kami buka, ternyata naskah bapak masih mentah, belum dilayout. Jadi kami tidak bisa memberikan harga cetak sesbagaimana yang tertulis di website. Mengingat naskah bapak masih perlu diolah. Kalau mau, bapak bisa memanfaatkan layanan kami pada bagian Jasa Penerbitan Indie. Di sana bapak bisa melihat-lihat paket yang ada pada perusahaan kami.
Pemesan: “Maksud gimana pa….?”

Potongan dialog di atas hanyalah sebuah ilustrasi dari beberapa kejadian yang pernah kami alami. Di sini menunjukkan bahwa masih banyak penulis beranggapan bahwa penerbitan dan percetakan merupakan satu paket. Padahal kedua istilah ini tentu saja sangat berbeda meskipun ada keterkaitannya.

Lalu apa dan bagaimana penerbit dan percetakan itu? Nah… lembaga atau institusi yang mengelola naskah mentah dari penulis/pengarang hingga bahan siap cetak dalam bentuk dummy. Proses pengelolaan ini terdiri dari:
1. Editing dan proofing naskah, untuk meminimalisasi kesalahan
2. Tata letak/layout naskah dengan berbagai ukuran. Tujuannya agar nyaman saat dibaca
3. Memberikan ilustrasi atau perwajahan  jika diperlukan
5. Membuat desain cover dengan penambahan ISBN dan barcode khusus yang diperoleh dari perpusatakaan nasional
6. Menjadikan file dalam bentuk pdf
7. Naskah siap cetak

Langkah-langkah di atas tentu saja membutuhkan keahlian tersendiri agar hasilnya bagus. Jadi apa yang disebut “naskah siap cetak” itu adalah naskah yang telah diproses sesuai langkah-langkah di atas.
Adapun percetakan adalah perusahaan yang menerima order cetak dari penerbit sesuai dengan spesisikasi yang diinginkan penerbit.

Salah satu perbedaan yang terlihat jelas antara penerbit dan percetakan adalah penulis bisa mengirim/menawarkan naskahnya kepada penerbit untuk diterbitkan, sementara hal yang sama tidak berlaku bagi percetakan. Percetakan tidak punya dewan redaksi yang bisa menilai sebuah naskah apakah layak terbit atau tidak. Pada lain sisi, penerbit tidak identik harus memiliki mesin cetak sebagaimana percetakan; modal utama penerbit adalah naskah dan kreativitas pengembangannya.

Dari sini, maka secara umum penerbitan dan percetakan itu biasanya memiliki alokasi dana operasional yang berbeda. Kalau penerbit memerlukan dana operasional pra-cetak. Sedangkan percetakan  membutuhkan dana operasional untuk mencetak dokumen.

Dari keperluan inilah biasanya banyak usaha yang bergerak di bidang jasa pra-cetak. Entah itu buku, tabloid, koran, majalah, dan sebagainya. Meskipun pada perkembangan kekinian, memang tidak bisa dipungkiri telah banyak percetakan yang sekaligus juga mengerjakan proses pra-cetaknya. Namun hal ini biasanya kurang maksimal.