ANTARA BUKU, GURU, ORANG TUA, DAN SISWA (ANAK): Meluruskan Kesalahpahaman


Suatu hal yang wajar bahkan merupakan hal yang positif manakala guru terlebih orang tua mengharapkan anak-anaknya (anak kandung ataupun anak didik) menjadi orang yang pintar atau lebih tepatnya cerdas.

Namun dalam prosesnya, “mencerdaskan” siswa (anak) tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan demi “mencerdaskannya” hingga saat ini masih ada saja cara berpikir sebagian guru dan orang tua siswa yang masih SALAH KAPRAH. Mereka masih menganggap bahwa anak yang cerdas adalah anak yang serba bisa; Matematika luar biasa, pelajaran IPA tak ada duanya, Bahasa Inggris gak pernah psimis, IPS mah beres…, Bahasa Indonesia dah seperti megang tabia (gendang kecil), dan pikiran-pikiran semisal dengan itu.

Pertanyaannya: Apakah jika siswa (anak) serba bisa dan semua nilai mata pelajarannya baik merupakan hal yang salah? Jelas tidak salah jika anak memiliki potensi untuk semua itu.

Lantas apanya yang disebut masih ada sebagian guru dan orang yang  “Berpikir Salah Kaprah?”
Sobat Siloka…,  walaupun memang benar bahwa orang yang serba bisa memang merupakan orang cerdas. Namun…., perkembangan pengetahuan telah menunjukkan kepada kita bahwa kecerdasan merupakan sebuah perangkat keterampilan seseorang untuk menemukan atau menciptakan solusi dalam memecahkan masalah hidupnya yang melibatkan penggunaan pemahaman baru.
Begitu kata Gardner… hehehe

Dengan demikian, kita harus paham bahwa keterampilan seseorang untuk memecahkan masalah kehidupannya pasti berbeda-beda!!! Coba tengok cara manusia dalam menjemput rezeki! Tidak sama bukan? Ada yang jualan gorengan, jualan pakaian, menjadi guru, editor, sales, buruh pabrik, penyanyi, dan beragam aktivitas lainnya.

Setiap manusia punya kemampuan atau kecerdasan tersendiri dalam memcahkan masalah kehidupannya. Jadi jelas, bahwa istilah seseorang cerdas itu tidak harus selalu serba bisa, tapi bagaimana ia mampu memaksimalkan salah satu potensinya (jika memang tidak banyak potensi yang dimiliki) untuk mengarungi kehidupan ini.

Inilah pemahaman yang harus diterapkan oleh para guru dan orang tua kepada siswa (anak) sejak dini, agar mereka kelak bisa memaksimalkan kecerdasannya yang paling menonjol.

Ini pula lah yang dalam ilmu pengetahuan disebutkan dengan istilah Multiple Intelligences (kecerdasan jamak: kecerdasan bahasa, logika matematika, visual spasial, kinestetik, musik, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis), dimana teori ini menjelaskan bahwa ada banyak cara belajar di mana anak-anak dapat menggunakan inteligensinya yang berbeda untuk mempelajari sebuah keterampilan (kecakapan untuk menyelesaikan tugas) atau konsep (rancangan ide).  Baca aja bukunya sendiri ya. Ini dia judulnya Frame of Mind

Dengan demikian, sekarang kita tahu kenapa saya sebutkan salah kaprah kan? Yakni masih adanya sebagian guru dan orang tua yang berpikir bahwa anak cerdas itu adalah anak yang semua nilai mata pelajarannya bagus, atau dengan singkat kata yang "serba mampu." Padahal tidaklah demikian.

Sobat Siloka...,
Jika berpikir "anak harus serba mampu" ini terus dipelihara, maka secara otomatis akan terbentuk perilaku guru dan orang tua yang memaksakan anak-anaknya dijejali dengan setumpuk “BEBAN MATA PELAJARAN,” memaksa mereka untuk bisa, dan jika tidak bisa langsung menjudge “bodoh.”

Mari kita perhatikan dalam kehidupan sehari hari… Bukankah masih ada guru yang bilang, “Iiiihhhh budak teh bodoh pisan, piraku nilai Matematika jeung Bahasa Inggrisnya ngan 30?”  PADAHAL GURU TERSEBUT BELUM MENYELIDIKI KEMAMPUAN/KECERDASAN LAIN ANAK DIDIKNYA SECARA DETAIL.  Atau…, bukankah tidak sedikit orang tua yang memarahi anaknya gara-gara nilai ulangan Mapel tertentu jelek?

Memang semua itu bukan sepenuhnya kesalahkaprahan cara berpikir guru dan orang tua, namun boleh jadi karena sistem pendidikan yang ada di negara ini masih perlu terus diperbaiki.

Oleh sebab itu, semua elemen masyarakat terlebih orang tua dan guru yang merupakan “ujung tombak” keberhasilan anak-anak di masa depan, tentunya harus berusaha menambah pengetahuan tentang bagaimana seharusnya menilai anak-anak dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Salah satu cara menambah pengetahuan tersebut adalah dengan membaca buku, terutama buku-buku yang berkaitan dengan pedagogis.

Dengan bertambahnya pengetahuan tentang pendidikan dan pembelajaran, maka secara perlahan paradigma salah kaprah dalam menilai anak itu akan berkurang bahkan hilang. Kemudian muncul paradigma baru yang lebih positif, yang mampu mengantarkan anak-anaknya kepada kehidupan yang lebih baik lagi di masa depan. Karena dengan bertambahnya pengetahuan dan wawasan, guru maupun orang tua akan lebih tahu potensi anak-anaknya yang bisa dikembangkan sejak dini dan bisa menjadi bekalnya kelak.

Jadi antara buku, guru, orang tua, dan siswa (anak) adalah elemen-elemen yang seharusnya tetap terikat demi masa depan yang lebih baik.

Sobat Siloka…, marilah kita renungkan kisah inspiratif berjudul Animals Schooling (dengan sedikit perubahan redaksi) yang boleh jadi sudah tidak asing lagi di telinga kita, karena cerita ini sudah banyak dibroadcast sejak lama...


Animals Schooling
Di sebuah hutan belantara berdirilah sebuah sekolah para  binatang. Statusnya "DISAMAKAN" dengan sekolah manusia.Kurikulum sekolah tersebut MEWAJIBKAN setiap siswa lulus semua pelajaran untuk mendapatkan ijazah.
Ada 5 mata pelajaran dalam sekolah tersebut: (1) TERBANG, (2) BERENANG, (3) MEMANJAT, (4) BERLARI, (5) MENYELAM.
Siswa-siswi yang sekolah di "Animals Schooling," tersebut terdiri dari banyak jenis, ada ELANG, TUPAI, BEBEK, RUSA, juga ada KATAK.
Di awal masuk sekolah, sudah terlihat bahwa setiap siswa tersebut memiliki keunggulan pada mata pelajaran tertentu. ELANG, sangat unggul dalam terbang. Dia memiliki kemampuan yang berada di atas kemampuan binatang lain. KATAK, ia sangat mahir pada pelajaran menyelam. TUPAI, ia piawai sekali dalam memanjat. Demikian pula siswa lainnya punya salah satu keunggulan yang menonjol.

Beberapa waktu kemudian, kepala sekolah dan guru di "Animals Schooling" tersebut mewajibkan semua siswanya harus lulus 5 Mapel.

Oleh sebab itu, mulailah si ELANG belajar memanjat dan berlari; TUPAI pun berkali-kali jatuh dari dahan yang tinggi karena berusaha keras belajar terbang; BEBEK seringkali ditertawakan meski sudah bisa berlari dan sedikit terbang. Namun ia sudah mulai tampak putus asa ketika mengikuti pelajaran memanjat.

Singkatnya, guru-guru di sekolah tersebut terus “MEMAKSA” para siswanya agar berusaha menguasai lima Mapel tadi. Namun ternyata belum juga menunjukkan hasil yang lebih baik.
Tidak ada satupun siswa yang menguasai 5 Mapel tersebut dengan sempurna.
Lama-kelamaan, TUPAI pun sudah mulai lupa cara memanjat, BEBEK sudah tidak dapat berenang dengan baik karena sebelah kakinya patah dan sirip kakinya robek karena terlalu sering “dipaksa” belajar memanjat, dan seterusnya…

Jika kesalahan berpikir semacam di “Animal Schooling” tadi terus menerus dipelihara oleh kita, maka: Orang tua yang berharap anaknya serba bisa, akan sangat stress ketika salah satu Mapel anaknya dapat nilai 40. Demikian pula guru, bukan hanya stress melihat kondisi anak didiknya, tapi juga menjadi cenderung temperamen sehingga bisa-bisa darah tingginya sering naik☺☺☺. 

Bukan hanya itu, di banyak sekolah bahkan terjadi kemelut “saling menyalahkan”, dimana Guru Kelas Atas menyalahkan Guru Kelas Bawah, Guru Kelas Bawah menyalahkan Orang Tua Anak, Orang Tua Anak menyalahkan Kepala Sekolah yang dianggap tidak cakap dalam membuat kebijakan, dan seterusnya-dan seterusnya…

Orang tua pun akhirnya mengambil langkah dengan memasukkan anaknya Les A, Kursus B, Les C, kursus D, private E, dan sebagainya serta berjibun kegiatan lain TANPA MEMPERHATIKAN DAN FOKUS PADA POTENSI ANAKNYA MASING MASING.

Mari kita jawab dengan jujur, Siapa yang jadi korban? Siapa yang salah? Kepala sekolahkah? Gurukah? Orang tuakah? Anak-anakkah? Atau karena pikiran kita sendiri yang terbelenggu dengan paradigma berpikir yang salah?

Mari kita luruskan kesalahpahaman ini…, Mari kita syukuri karunia luar biasa yang sudah Allah amanahkan kepada para orang tua yang memiliki anak-anak yang sehat dan lucu… Mari kita bersyukur atas amanah Allah menjadikan kita sebagai guru yang merupakan ladang untuk meraih pahala jika kita mampu bercocok tanam yang baik di dalamnya.

Sobat Siloka…,
Sesungguhnya setiap anak memiliki belahan otak dominannya masing masing. Ada yang dominan di limbik kiri, neokorteks kiri, limbik kanan, neokortek kanan, juga batang otak, sehingga masing-masing dari mereka memiliki kelebihannya sendiri-sendiri. 

Fokuslah dengan kelebihan itu, kawal, stimulasi, dan senantiasa fasilitasi agar terus berkembang.

Janganlah kita disibukkan dengan kekurangannya. Karena sesungguhnya setiap anak yang terlahir di dunia ini adalah cerdas pada kelebihannya masing-masing, istimewa, dan mereka adalah “bintang” yang bersinar di antara kegelapan malam.

Sudah saatnya kita bergandeng tangan dalam menggali potensi diri anak dan anak didik kita seoptimal mungkin.


Selamat berjuang Bapak Ibu Guru, Ayah dan Bunda. Ajarilah anak-anak kita dengan cinta dan kasih sayang... Tunjukkan keteladanan terbaik kita kepada mereka… Semoga Allah selalu memudahkan segala urusan kita dan memampukan kita mengiringi kesuksesan peserta didik serta anak kita di dunia dan akhirat. Aamiin..

Jika artikel ini dirasa bermanfaat, silahkan share melalui pilihan di bawah ini!